Ketua FK PATUH Kalsel, H. Saridi Salimin saat kegiatan halal bihalal yang dirangkaikan dengan pembahasan isu strategis terkait dampak geopolitik global terhadap penyelenggaraan umrah dan haji khusus.az
BANJARMASIN - Forum Komunikasi Penyelenggara Travel, Umrah dan Haji Khusus (FK PATUH) Kalimantan Selatan menggelar kegiatan halal bihalal yang dirangkaikan dengan pembahasan isu strategis terkait dampak geopolitik global terhadap penyelenggaraan umrah dan haji khusus.
Dalam pemaparannya,Ketua FK PATUH Kalsel, H. Saridi Salimin, mengatakan bahwa konflik internasional, khususnya yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah memicu gejolak besar yang berdampak langsung pada industri perjalanan ibadah.
“Dampaknya sudah sangat terasa, terutama pada bulan Syawal lalu. Banyak penerbangan jamaah yang mengalami pembatalan karena menggunakan rute transit, seperti melalui Qatar dan negara lainnya,” ujar Saridi di Banjarmasin,Rabu (22/4) malam.
Ia menambahkan kondisi tersebut menyebabkan sejumlah penyelenggara travel mengalami kerugian karena biaya operasional yang membengkak, terutama dari sektor tiket penerbangan yang mencapai sekitar 60 persen dari total biaya umrah.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut memengaruhi harga avtur yang berdampak pada lonjakan harga tiket pesawat, baik domestik maupun internasional.
“Ke depan, penyesuaian harga umrah dan haji khusus tidak bisa dihindari. Kemungkinan mulai diberlakukan untuk keberangkatan setelah musim haji, sekitar Juni mendatang,” jelasnya.
Saat ini, kata dia, biaya umrah sudah berada di atas Rp30 juta. Bahkan, untuk paket ibadah haji tertentu bisa mencapai Rp250 juta hingga Rp500 juta, tergantung fasilitas dan jenis layanan yang dipilih jamaah.
Namun,Saridi optimistis minat masyarakat terhadap ibadah umrah dan haji tetap tinggi, khususnya di Kalsel yang dikenal sebagai daerah religius.
“Walaupun ada kenaikan harga, kami yakin tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menyoroti masih adanya kebingungan di masyarakat terkait istilah program haji, seperti haji furoda. Menurutnya, istilah tersebut kini mulai mengalami penyesuaian dalam regulasi, meskipun secara prinsip tetap merujuk pada jalur keberangkatan non-kuota reguler.
Owner Ma Ali Wisata, M. Ilhami, menyampaikan bahwa pihaknya juga akan melakukan penyesuaian harga sebagai langkah yang tidak terhindarkan.
“Kami berharap masyarakat dapat memahami kondisi ini karena dipengaruhi faktor global yang tidak bisa dikendalikan,” katanya.
Sementara itu,Owner PT Kamilah Berkat Guru, M. Zulfan Efendi, yang menegaskan bahwa seluruh penyelenggara travel saat ini menghadapi tantangan yang sama dan harus melakukan penyesuaian demi menjaga keberlangsungan layanan. az
Tags
kota